Manusia yang rasa ikhlasnya rendah otomatis memiliki nafsu yang sangat tebal, baik ‘rasa aku’, ‘rasa suci diri’ maupun ‘rasa minta pujinya’ sehingga tujuan hidupnya hanya untuk mendapatkan kekuasaan, kesaktian, dan kekayaan. Sebaliknya, manusia yang rasa ikhlasnya tinggi memiliki tujuan hidup untuk beribadah kepadaNya sedangkan kekuasaan, kesaktian, dan kekayaan semata-mata hanyalah sarana untuk hidup.
Dalam proses perubahan dari manusia kebaikan menuju manusia kebenaran, Allah akan mengambil hakNya yang dipakai nafsu manusia, yaitu ‘rasa aku’, ‘rasa suci diri’, dan ‘rasa minta puji’.
- Bagi manusia yang terbiasa menganggap apa yang mereka “miliki” adalah semata-mata hak miliknya (manusia yang dipenuhi rasa aku), oleh Allah akan diambil kembali segala hal yang dia anggap miliknya tersebut. Tujuannya agar manusia tersebut sadar dan mau mengakui bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Manusia hanya dipinjami untuk memanfaatkannya dengan benar.
- Bagi manusia yang menganggap dirinya yang paling benar, yang paling dekat dengan Allah, yang menganggap orang lain yang tidak seperti dirinya sebagai orang kafir sehingga hanya dirinya dan kelompoknyalah yang akan masuk surga (manusia yang dikendalikan rasa suci diri), oleh Allah akan dibukakan segala kekurangan dan kesalahannya sebagai manusia. Hal itu dilakukan agar mereka sadar bahwa yang menentukan surga dan neraka mutlak hanya Allah dan hanya Allah-lah yang Maha Suci.
- Bagi manusia yang seluruh hidupnya disibukkan hanya untuk mencari pujian dari sesamanya sehingga menganggap dirinyalah yang paling sempurna dan menjadikannya manusia takabur, oleh Allah akan dibukakan aibnya yang selama ini ia tutupi dengan kekuasaan dan kekayaan yang selama ini mereka miliki. Tujuannya agar mereka sadar bahwa yang berhak dipuji hanya Allah.
No comments:
Post a Comment